Wasit Dianiaya Saja
Kerusuhan di Mandala Krida berawal dari rasa tidak puas penonton terhadap wasit Jamaluddin yang memimpin pertandingan. Wasit asal Enrekang itu meniup peluit akhir sesaat setelah salah seorang pemain PSIM melakukan tendangan bebas dan bola menyentuh pemain Persiba kemudian bergulir keluar lapangan di sisi kiri gawang Persiba.
Penonton menganggap keputusan itu menutup peluang PSIM untuk menang. Pertandingan itu sendiri berakhir imbang 2-2. Penonton yang marah kemudian masuk ke lapangan dan menghajar wasit. Dua asisten wasit, Noor Rakhmad dan Tavip Dwi Handaya, juga menjadi korban amukan penonton.
Komdis mengakomodasi tuduhan penonton dengan meminta Badan Perwasitan Indonesia meninjau kepemimpinan Jamaluddin, dan memberi laporan balik dalam waktu satu bulan. Selama masa peninjauan tersebut, Jamaluddin diistirahatkan dari tugas memimpin pertandingan.
Kekhawatiran akan keberpihakan wasit terhadap kesebelasan tamu, sebelumnya juga sempat dilontarkan oleh manajer PSIM, Nugroho Swasto. ”Sejak awal kami sudah was-was juga karena wasit yang memimpin pertandingan berasal dari Kalimantan tepatnyaBanjarmasin. Padahal kami harus menjamu Persiba yang juga dari Kalimantan. Kenapa PSSI tidak menunjuk wasit dari daerah yang lebih netral," keluhnya.Nugroho meriview kembali nasib tragis yang dialami PSIM ketika dikalahkan Persiba 3-1 saat bertandang di Balikpapan pada putaran pertama lalu. Ketika itu, menurut Nugroho, PSIM harus kebobolan dua gol dalam tempo 10 menit. “Dan ironisnya waktu itu, gol Persiba dicetak melalui tendangan penalti yang menurut saya sangat kontroversial,” jelas Nurgoho.